Knowing More About PKB

31 12 2008

EXECUTIVE SUMMARY

  1. PKB masa kini, adalah PKB yang baru! PKB yang muda dan modern, berani dan teruji! PKB yang tulus dan terbuka, tegar dan tegas! PKB sang halilintar! (Ar-Ra’d :13)
  2. Bagi PKB, maka NKRI, UUD 45 dan Pancasila, adalah final!
  3. Oleh sebab itu satu-satunya fokus PKB, adalah kesejahteraan rakyat, lahir dan batin! PKB sungguh berjihad untuk memastikan bahwa seluruh derivat UUD 45 yang dibuat oleh Parlemen (UU) dan Kabinet (Peraturan dan kebijakan publik), baik di pusat maupun di daerah, memiliki tujuan-tunggal yakni terwujudnya kesejahteraan rakyat lahir batin, bagi setiap dan seluruh bangsa Indonesia, dan bentuknya ialah Kemandirian Bangsa!
  4. Dan filosopi politik yang dianut PKB adalah bahwa setiap tindakan politik PKB sudah berdasarkan wahyu via istikharah! (lihat A Young Moslem’s Guide to the Modern World, oleh Seyyed Hossein Nasr, 1993)
  5. Mengapa? karena pokok-pokok pikiran yang sama seperti itulah yang menjadi bintang harapan dari insan manusia Indonesia, baik sadar dan terucap maupun tidak sadar dan tersimpan jauh di hati; PKB berani jadi pelopor dan teladannya.

 

QUESTION & ANSWER

Bahasa Politik PKB: Negara Adalah Pembawa Rahmat ALLAH Bagi Seluruh Rakyatnya.

Q (1) Kenapa bisa begitu?

A: Karena :

1. Dalam Preambule UUD 45, tegas dikatakan: bahwa pemerintah negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

2. Itulah Misi dari Pemerintah Negara, demi tercapainya Visi Negara Indonesia, yaitu terciptanya Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (lih at Preambule), dan Misi Negara Indonesia, yakni mewujudkan suatu Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (lihat Preambule).

3. Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (pasal 33:3)

Q (2) Apakah hal itu adalah tugas dan tanggungjawab negara?

A: Ya, demikianlah sesungguhnya tugas tertinggi dari negara.

Q (3) Apakah hal itu adalah juga menjadi tugas dan tanggungjawab partai-partai politik?

A: Ya, benar demikian!

Q (4) Mengapa?

A: Karena penyelenggaraan pemerintahan negara, justru akan di isi oleh individu kader-kader profesional putera-puteri bangsa Indonesia sebagai abdi rakyat dan abdi negara yang terbaik, utamanya yang tergabung dalam partai-partai yang ada.

Q (5) Bagaimana kalau Visi dan Misi dari pada partai itu bertentangan dengan Visi dan Misi negara?

A:

1. Sesungguhnya dan seharusnyalah, bahwa substansi pokok dari pada Visi dan Misi negara mutlak tercantum di dalam dan di antara Visi dan Misi partai.

2. Jadi Visi dan Misi partai itu mutlak tidak boleh bertentangan dengan Visi dan Misi negara serta Misi pemerintah. Dan sejarah pun telah membuktikannya tentang segala akibatnya yang bersifat destruktif bagi bangsa dan negara.

Q (6) Berikanlah contoh, bagaimana Visi dan Misi partai itu dibuat agar supaya mutlak tidak bertentangan dengan Visi dan Misi negara serta Misi pemerintah?

A: Perhatikanlah tabel di bawah ini:


 

Q (7): Apakah yang tunjukkan oleh tabel diatas itu?

A: Bahwa hubungan Visi & Misi NU, PKB, dan Negara (UUD 45 & Pancasila), inti-pokoknya harus merupakan satu garis linear (garis lurus) yang terkait erat.

Q (8): Apakah garis merahnya?

A: Garis merah: Kesejahteraan rakyat sesuai rancangan Allah.

Q (9): Apakah dasarnya?

A: Dasarnya: Preambule UUD 45 – yang dibuat para founding fathers ketika berpikir tingkat tertinggi (ma’rifat) -, yang berisi Visi & Misi Negara, dan Misi Pemerintahan, serta falsafah Pancasila; yang mengalir deras -main stream- dalam Visi & Misi NU, dan Visi & Misi PKB).

Q (10): Apakah inti dari main stream alias garis merah itu?

A: Inti main stream-nya adalah bahwa aktivitas di segala bidang kehidupan manusia sehari-hari, haruslah di pimpin oleh faktor yang tetap yakni Kitab Suci: istikharah alias pengalaman transendental, yakni komunikasi dua-arah antara Allah dengan hamba-Nya, melalui utusan-utusan-Nya, dengan tujuan tunggal ialah supaya Rancangan Allah bagi Indonesia, menjadi kenyataan, berupa terwujudnya kesejahteraan rakyat Indonesia tanpa kecuali. (lih Asy-Syuura :51; An-Nahl :2; Al-Hajj :75)

Q (11): Bagaimana rincian garis merah Kesejahteraan Rakyat itu?

A: Rincian garis merah kesejahteraan rakyat:

Tercipta Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (Visi Negara & Visi Politik NU & PKB), yang berkedaulatan rakyat berdasarkan Pancasila (Misi Negara & Misi Politik NU & PKB) di mana aktivitas seluruh bidang kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia pada masing-masingnya selalu dipimpin oleh utusan Allah Yang Maha Kuasa (Misi politik khusus NU & PKB).

Q (12): Apakah itu sudah cocok dengan Visi Politik NU?

A: Vision Politik NU:

1. Terciptanya suatu keadaan negara Indonesia (Visi Negara) yang rakyatnya memiliki sikap hidup islami sejati dan penuh keteladanan dalam segala aktivitas hidup dan kehidupannya sehari-hari dan dipimpin oleh utusan Allah Yang Maha Kuasa (Visi NU).

2. Singkatnya: Terciptanya suatu keadaan negara Indonesia (Visi Negara) yang rakyatnya memiliki sikap hidup islami sejati dan penuh keteladanan (Visi Politik NU).

3. Sikap hidupnya adalah sabar, syukur, setia & taat, jihad, pasrah/berserah diri; dan butir-butir panca-tunggal itulah yang disebut sikap hidup islami sejati.

4. Panca-tunggal, adalah istilah umum, label umum, indikator umum, artinya substansi ini dapat berlaku umum, bagi siapapun juga, tanpa label khusus; dan ketika menerapkannya, maka masing-masing insan mengaplikasikannya sesuai dengan ajaran agamanya sendiri; jadi ada label khususnya bagi masing-masing agama dan kepercayaan; karena PKB bersifat inklusif mutlak, maka label umum itulah yang diterimanya sebagai Visi PKB, yang termasuk didalamnya Visi NU itu sendiri, sebagai basis utama PKB..

5. Dengan perkataan lain, di dalam internal PKB lah yang dengan sendirinya akan lebih dahulu terwujud visi dan misi PKB itu; contoh: ketika ada pemilih diluar NU yang memberikan suara bagi PKB, itulah indikasi yang menunjukkan awal keberhasilan dari Misi PKB dan mulai ter-wujudnya Visi PKB secara internal.

6. Wujudnya, adalah sang insan menjadi teladan dalam perkataannya, dalam tingkah lakunya, dalam kesetiaannya akan segala perintah Allah dan ketaatannya akan segala larangan-Nya, dalam cinta kasihnya (sebagai pembawa rahmat Allah, Al-Anbiya :107) dan dalam kesalehan dan kesuciannya.

7. Sikap hidup alias perilaku dan keteladanan itulah yang menjadikan sang insan layak untuk dipimpin oleh utusan Allah, sekaligus menjadi warganegara yang baik (good citizen) dan dihormati oleh orang lain.

Q (13): Apakah sudah cocok dengan Visi Politik PKB?

A: Vision Politik PKB:

1. Terciptanya Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (Visi Negara), yang rakyatnya memiliki sikap hidup panca-tunggal dan penuh keteladanan dalam segala aktivitas hidup dan kehidupannya sehari-hari dan dipimpin oleh utusan Allah Yang Maha Kuasa (Visi Politik NU).(bahasa teknis politik operasionalnya: Politik plus faktor tetap Kitab Suci, yakni faktor pertimbangan transendental alias istikharah; ilmu politik baru, Seyyed Hossein Nasr, 1993)

2. Singkatnya: Terciptanya suatu keadaan negara Indonesia (Visi Negara) yang rakyatnya memiliki sikap hidup panca-tunggal dan penuh keteladanan dalam segala aktivitas hidup dan kehidupannya sehari-hari (Visi NU dan ormas-ormas keagamaan lainnya; inklusif).

3. Sekarang adalah tugas NU: bersama-sama ormas-ormas keagamaan lainnya, untuk merumuskan panca-tunggal dan keteladanan itu sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Q (14): Apakah sudah cocok dengan Misi Politik NU?

A:

1. Misi Politik NU: NKRI, UUD 45 & Pancasila adalah final bagi NU. Tulisan Ketua Umum NU, Hasyim Muzadi, di IndoPos 20 September 2007, hlm 1, 7, dengan judul ‘Ramadan dan Piagam Madinah’, menegaskan posisi NU terhadap negara dan bangsa Indonesia, yakni bahwa bagi NU: NKRI dan Pancasila, adalah final, demi tegak-nya persatuan dan kesatuan bangsa (keputusan Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo).

2. Membimbing umat warga NU, termasuk para pelaku politik warga NU di PKB, supaya mampu memiliki sikap hidup islami sejati yaitu: panca-tunggal, dan mampu menjadi teladan, agar dalam kehidupannya sehari-hari mereka menjadi layak untuk dipimpin oleh utusan Allah, sehingga rancangan Allah bagi NU dan diri mereka pada masing-masingnya dapat terwujud di sepanjang sisa umurnya di bumi ini.

3. Operasionalnya di bidang politik (dan juga berlaku di semua bidang kehidupan): Seorang warga NU, yang jadi politikus di PKB, kondisinya hanya ada dua:

a. [1] dia sudah memiliki sikap hidup islami sejati, sehingga sudah di pimpin oleh utusan Allah di dalam aktivitas politiknya sehari-hari; (di sini NU sedang menuai dan menikmati output hasil didikannya) atau

b. [2] dia sedang dalam proses perjalanan iman untuk dapat memiliki sikap hidup islami sejati, dan bertekad-baja untuk menyelesaikan perjalanan itu sampai akhir; (di sini peranan NU sangat besar untuk tetap membimbing dia sampai akhir, sesuai misi NU)

4. Diluar kedua kondisi individual itu, maka seorangpun tidak layak mendapat tugas kenegaraan apapun atas nama PKB, kecuali hanya menjadi anggota biasa saja; sambil menunggu NU mempersiapkan dirinya sesuai misi NU sendiri.

Q (15): Apakah sudah cocok dengan Misi Politik PKB?

A:

1. Misi Politik PKB: NKRI, UUD 45 & Pancasila adalah final bagi PKB. Pernyataan Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar, dalam diskusi dengan Direksi dan Redaktur Harian Suara Pembaruan, tanggal 19 Desember 2008, di kantor pusat Suara Pembaruan, Jl. Dewi Sartika 136D, Jakarta.

2. Turut mewujudkan suatu keadaan politik nasional & lokal yang kondusif bagi rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh warga NU, sedemikian rupa sehingga sikap hidup islami sejati (panca-tunggal) dapat dipraktekkan dalam segala bidang kehi-dupan rakyat sehari-hari; supaya layak di pimpin oleh utusan Allah, agar Rancangan Allah bagi Negara dan Rakyat Indonesia, termasuk bagi PKB dan anggotanya, simpa-tisannya dan pendukungnya, dan bagi NU dan umatnya, dapat terwujud seutuhnya.

3. Dengan perkataan lain, setiap rakyat Indonesia, dengan agama apapun, dan dengan alasan apapun juga, jika dia sadar ataupun tidak sadar, dalam perilakunya telah memenuhi kriteria dan mengambil sikap hidup, seperti yang ada pada butir-butir dari panca-tunggal yakni sabar, syukur, setia & taat, jihad, dan berserah diri alias pasrah kepada sang Pencipta, maka sesungguhnya dari sudut pandang NU, de facto dia telah memiliki sikap hidup islami sejati tanpa harus de jure beragama Islam (Al-Isra :84; Al-Hajj :17).

 

Referensi (2):

Al-Isra :84 *) Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Al-Hajj :17 *) Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabi’in, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.


Q (16): Tolong digambarkan, apakah aktivitas PKB & NU sudah sesuai dengan Visi & Misi-nya ketika berada pada realitasnya di lapangan kemasyarakatan dan politik?

A:

1. Sikap politik NU, adalah bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, bagi NU adalah bersifat final alias tidak dapat diubah-ubah lagi.

2. Sikap politik PKB, adalah bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, bagi PKB adalah bersifat final alias tidak dapat diubah-ubah lagi; sikap itu tetap sama apapun posisi politik PKB, baik ketika memerintah maupun ketika menjadi oposisi.

3. Sikap hukum PKB, sudah dicontohkan dan bisa diteladani oleh organisasi-organisasi masyarakat lainnya, yakni bahwa hukum yang adil juga harus ditegakkan di dalam internal organisasi partai. Kita bisa lihat dan ikuti sendiri sepanjang proses konflik internal PKB yang terakhir dan berakhir sempurna di MA dan KPU.

4. Sikap inklusif PKB, bukan hanya bagi eksternal tetapi juga harus terbukti dalam dirinya sendiri. Kita bisa lihat dan ikuti sendiri sepanjang proses konflik internal PKB yang terakhir dan berakhir sempurna di tingkat konsolidasi organisasi (proses islah).

5. Sikap konsistensi PKB, bukan hanya terhadap negara dan bangsa, tetapi juga harus terbukti dalam diri sendiri: Bahwa PKB harus berjalan terus dibawah payung kharisma NU, dan sama sekali bukan kharisma perorangan/individual. Kharisma individual perorangan hanyalah salah satu aset NU, bagi NU dan bagi PKB, yang harus diperlakukan dengan bijaksana, adil dan benar untuk kepentingan bangsa dan negara, yang di dalamnya sudah termasuk kepentingan warga NU dan warga PKB, baik anggota maupun simpatisan dan pendukungnya.

Q (17): Apakah yang akan dilakukan PKB jika kader-kadernya (internal dan external resources is opened) diberi kepercayaan duduk dalam pemerintahan Negara Indonesia?

A:

1. PKB akan memastikan, bahwa pemerintah itu kuat dan berani, tegas dan konsisten memiliki satu suara dan satu sikap serta adil dalam mewujudkan Kesejahteraan Rakyat, sesuai Misi Negara dan Misi Pemerintah!

2. PKB akan memastikan terwujudnya penyempurnaan dari keadaan keamanan dan ketertiban masyarakat dan negara!

3. PKB akan memastikan bahwa segala aktivitas perorangan maupun kelompok masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari benar-benar dapat berjalan dengan merdeka dan bebas dari rasa ragu atau takut (alias berkehidupan kebangsaan yang bebas), dalam bingkai hukum dan perundang-undangan yang pasti, dan adil dan benar.

4. PKB akan memastikan terwujudnya dukungan pemerintah yang sepenuhnya bagi seluruh aktivitas KPK dalam rangka pemberantasan korupsi!

5. PKB akan memastikan terwujudnya kondisi yang kondusif sedemikian rupa, supaya seluruh aktivitas sehari-hari setiap individu dan keluarga warga masyarakat harus berujung pada kesejahteraannya masing-masing dan lingkungannya, sebagai wujud ke-sejahteraan rakyat Indonesia, lahir dan batin, dalam negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

6. PKB akan memastikan terwujudnya kondisi hubungan internasional yang kondusif supaya bangsa Indonesia bebas melakukan aktivitas antar-bangsa yang saling menguntungkan, bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat Indonesia dan dunia.

Q (18): Apa strategi dan kebijakan serta program PKB dalam memenangkan pemilu 2009?

A:

1. PKB sudah memiliki strategi dan kebijakan bagi negara, yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Negara Indonesia, sepanjang lima tahun ke depan, bahkan 15 tahun, dalam rangka mewujudkan tahapan (milestones) kesejahteraan rakyat Indonesia.

2. Dalam kampanye 2009, pokok-pokok strategi, kebijakan dan program itulah, yang akan ditawarkan kepada rakyat Indonesia, sebagai wujud janji-janji kampanye yang tepat dan benar.

3. Oleh sebab itu, bukan kucing dalam karung yang akan di ajukan oleh PKB, tetapi dalam waktu yang singkat sudah dapat mulai diwujudkan janji-janji itu, atau pada saatnya PKB undur diri dari pemerintahan karena terbukti telah nyata-nyata membohongi rakyat ketika menang!

4. PKB akan memastikan bahwa selambat-lambatnya dalam waktu tujuh hari sesudah pelantikan presiden terpilih, maka susunan personalia kabinet sudah bisa diumumkan, supaya kabinet dan revitalized-birokrasinya dapat segera bekerja bagi rakyat.

5. PKB akan memastikan bahwa setiap seratus hari ke depan, maka rakyat boleh mengetahui dan menanyakan apa saja kerjanya pemerintah negara Indonesia ini, bagi kepentingan rakyatnya.

Q (19): Apakah tema kampanye PKB?

A:

1. Tema kampanye PKB adalah PERUBAHAN: KEMANDIRIAN BANGSA! (inti-pokoknya, adalah dari rakyat dan oleh rakyat dan untuk rakyat)

2. Mengapa tema itu? Karena sungguh rakyat menghendaki terwujudnya kemandirian dirinya sendiri karena pemimpinnya bukan saja sadar penuh akan kebutuhan inti rakyat-nya tetapi terutama yang berani berjihad mengorbankan pemdanya dan dirinya serta harta miliknya untuk mewujudkan kondisi yang kondusif, via kebijakan-kebijakan publiknya, sehingga rakyat dapat bebas bekerja dan menjadi mandiri dan sejahtera!

3. Dan PKB dengan tegas dan jelas, berani menunjuk contoh-contoh praktis, yang justru berada diluar dirinya sendiri, seperti yang telah sukses dan layak diteladani oleh para pemimpin kita, baik pusat maupun daerah di seluruh Indonesia, yakni kebijakan-kebijakan publik yang membentuk kondisi kondusif bagi kepentingan rakyat dan prestasi yang saat ini dicapai oleh sepuluh kepala daerah teladan, ialah Bapak Jusuf Serang Kasim, Walikota Tarakan (1999-2009), Kalimantan Timur; Bapak Untung Sarono Wiyono Sukarno, Bupati Sragen (2001-2011),  Jawa Tengah; Bapak Joko Widodo, Walikota Surakarta (2005-2010); Bapak Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta (2001-2011); Bapak Ilham Arif Sirajudin, Walikota Makassar (2004-2009); Bapak Djarot Saiful Hidayat, Walikota Blitar; (2000-2010) Bapak David Bobihoe Akib, Bupati Gorontalo (2005-2010); Bapak Anak Agung Gde Agung, Bupati Badung (2005-2010), Bali; Bapak Andi Hatta Marakarma, Bupati Luwu Timur (2005-2010), Selawesi Selatan; dan Bapak Suyanto, Bupati Jombang (2003-2013), sebagaimana yang disajikan dengan tema: Laskar Kepala Daerah, Tokoh Pilihan Tempo, dalam majalah Tempo, edisi 22-28 Desember 2008, halaman 19 s/d 69.

4. Dengan bersumber dari laporan Tempo itulah, PKB akan menunjukkan butir-butir mutiara dan berlian kemandirian, yang menghiasi mahkota kemenangan rakyat, dan menjadi inti-pokok perubahan (sebagai tipping point) yang terjadi di daerah itu pada masing-masingnya.

5. Dari situ kita dapat melihat, apakah kelima belas butir berlian yang ada dalam preambule UUD 45, yakni lima butir Vision Negara, dan lima butir Mission Negara, serta lima butir Mission Pemerintah Negara Indonesia, sesungguhnya sudah tertanam kokoh secara integral dan linier dalam setiap butir mutiara kebijakan publik (pewujud kondisi kondusif yang tepat dan benar sekaligus pembawa rahmat Allah bagi rakyat dan alam semesta di wilayah masing-masing) yang dibuat oleh para Bupati dan Walikota, Laskar Kepala Daerah, yang kini bukan saja aset dan solusi daerah melainkan sudah menjadi milik seluruh bangsa Indonesia itu. (Silahkan buka rubrik khusus tentang tema PKB: Perubahan untuk Kemandirian Bangsa, yang ada di blog ini juga).

Q (20): Bagaimana melakukannya?

A:

1. PKB yang harus lebih dulu berubah! Itulah reformasi internal PKB!

2. Dan PKB telah berubah! PKB berubah melalui proses perubahan yang amat sangat menyakitkan, yakni konflik internal PKB yang terakhir itu!

3. Namun dibalik yang menyakitkan itu, terpancar cahaya-cahaya oportuniti (Al Baqarah :216) yang membuat PKB menjadi terbuka, tegar dan tegas, lemah lembut dan rendah hati, muda dengan menyimpan segudang pengalaman dan pembelajaran yang telah menempa PKB menjadi sang halilintar (Ar-Ra’d :13), bukan dalam arti merubah Visi & Misi NU dan PKB dan Negara, tetapi merubah tatacara berpikir lama yang berujung pada perubahan sikap diri yang baru, yang siap mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kesejahteraan rakyat yang adil dan benar.

4. Sekarang, inilah PKB yang baru! PKB yang berani dan teruji, muda dan modern! (PKB yang muda, berani dan teruji!)

5. PKB muda dan modern, dengan penguasaan ilmu politik yang terbaru, yang berlaku di abad ke 21, dan milenium ketiga, yakni Politik plus istikharah! PKB muda dan modern, dengan menjalankan hukum secara konsekuen.

6. PKB muda dan modern, dengan konsistensi tinggi pada Visi dan Misi: Negara, dan NU, dan PKB.

7. PKB muda dan modern, dengan penuh persiapan dan kesiapan yang tinggi, memasuki masa-masa awal dari perjalanan panjang menuju kepada kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya, sebagai wujud dari kemurnian gerakan reformasi bangsa.

8. PKB muda dan modern, sebagai kader-kader NU & PKB, berani menetapkan target-target rasional-spiritual, seperti antara lain siap di review setiap seratus hari pemerintahan (legislatif, eksekutif dan yudikatif), dan siap undur diri jika terbukti menipu rakyat (kebohongan publik) ketika menang.

9. PKB muda dan modern, yang siap menjadikan dirinya teladan perubahan bagi bangsa dan negara Indonesia dan dunia.

 

Referensi (3):

Ar-Ra’d :13 *) Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.


MENTAL JIWA MERDEKA Vs MENTAL PENJAJAHAN

Q (21): Apakah sesungguhnya arti dari masa-masa 1945-1965-1998-2008 itu?

A:

1. Indonesia, 1945 – 1967 : zaman Bung Karno

2. Indonesia, 1967 – 1998 : zaman Soeharto

3. Indonesia, 1998 – 1999 : zaman BJ Habibie (transisi)

4. Indonesia, 1999 – 2002 : zaman Gus Dur (reformasi: transisi dan pengantar)

5. Indonesia, 2002 – 2004 : zaman Megawati (reformasi: transisi dan pengantar)

6. Indonesia, 2004 – 2009 : zaman SBY (reformasi: transisi dan pengantar)

Q (22): Apa arti dari peristiwa utama yang terjadi pada bulan Januari 2008 itu?

A: Pada momentum itulah dimulainya langkah pertama dari seluruh proses perjalanan bangsa Indonesia menuju kepada kesejahteraan rakyat!

Q (23): Sesungguhnya keenam zaman pemerintahan itu, intinya apa sih?

A: Intinya: rakyat Indonesia telah diperbaharui, yakni dari mental penjajahan menjadi mental jiwa merdeka! Proses membaharui mental rakyat terjadi dari 1945 – 1967 – 2009.

Q (24): Apa artinya itu?

A: Saatnya tiba: rakyat dan pemimpinnya harus berjiwa merdeka dan mandiri!

Q (25): Apa wujudnya?

A: Dimulai dari penyingkiran siapapun yang bersikap dan berjiwa penjajahan supaya tidak jadi pemimpin bangsa, dan memberi peranan sepenuhnya kepada siapapun yang berjiwa merdeka dan mandiri, kompeten dan profesional (masa 2009-2014)

Q (26): Apa yang akan terjadi sesudah itu?

A: Pada masa 2014-2019, proses pergantian generasi, dari generasi 1945 yang sudah selesai, dan diganti dengan generasi baru (generasi reformasi) yang akan memimpin bangsa Indonesia menuju kepada kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya.

Q (27): Dan kemudian dari pada itu apa lagi?

A: Pada masa 2019-2024, para pemimpin Indonesia adalah para pemuda dan pemudi harapan bangsa!

Q (28): Siapakah mereka itu?

A: Yakni mereka-mereka yang pemuda-pemudi, bersih dan menguasai ilmu politik baru karena telah ditempa oleh pembelajaran dan pengalaman politik dan profesional sepanjang sekurang-kurangnya sepuluh tahun terakhir (2009-2019).

Q (29): PKB sudah punya gambaran itu, dari mana ya?

A:

1. PKB dengan segala kerendahan hati bersyukur mendapat anugerah dan berkat dimampukan untuk menjadi layak diberitahu, wahyu via istikharah, tentang sebagian dari rahasia rancangan kehendak Allah bagi negara dan bangsa Indonesia masa kini (Asy-Syuura :51; lih An-Nahl :2; Al-Hajj :75).

2. Itulah salah satu wujud dari pelaksanaan ilmu politik baru (Seyyed Hossein Nasr, 1993), yakni politik plus istikharah (wujudnya:pengalaman spiritual/transendental)

3. Tentunya anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terkejut bagaikan petir di siang bolong membaca pengakuan kesaksian di atas itu, namun bukankah di atas sudah dikatakan bahwa PKB muda dan modern itu bagaikan halilintar?

Q (30): Lalu apa yang diperbuat?

A: Memasuki masa-masa seperti itulah PKB telah mempersiapkan dirinya untuk terlibat langsung dalam menjawab tantangan zaman kesejahteraan rakyat masa kini.

Q (31): Konkritnya apa ya?

A:

1. Itulah sebabnya PKB mengajak kita semua bergabung, dengan bergandengan tangan, bersama-sama mengukir sendiri perjalanan yang memang telah lama kita dambakan itu. Itulah jalan lurus yang ujungnya adalah kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya.

2. Artinya, jika anda mendambakan perubahan untuk tuntas menyelesaikan reformasi bangsa Indonesia yang sesungguhnya, yakni menjadi bangsa yang mandiri (dari rakyat dan oleh rakyat dan untuk rakyat), marilah bergabung dengan PKB, gunakanlah hak pilih anda dan berilah suara pilihan anda kepada PKB, No: 13.

3. Sama sekali tidaklah kebetulan PKB mendapat angka 13! Sebab seluruh keberadaan kita itu adalah Allah yang mutlak menentukan, termasuk PKB ketika mengambil angka 13 itu (Al-An’aam : 59)

4. Buktinya? Sesudah PKB menarik angka 13, maka PKB beruntung dan bersyukur mendapat bonus dari Allah yakni kemenangan yang sah dan final di tingkat MA. (Al-Baqarah :216)

5. 5. Bahkan dikatakan, bahwa si orang muda MI telah menjadi halilintar bagi PKB, dan PKB menjadi halilintar bagi Indonesia, dan Indonesia menjadi halilintar bagi dunia!

Referensi (4):

Al-Baqarah : 216*) Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Al-An’aam : 59 *) Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).


UMUM: FALSAFAH PANCASILA

Q (32): Apakah PKB sudah mengenal dan mengerti falsafah Pancasila, sesuai paradigma asli?

A: Sesungguhnya kita dan khususnya para pakar itu seharusnya sadar dan tahu, bahwa Pancasila itu adalah representasi dari seluruh ideologi yang hidup dalam masyarakat dunia, termasuk di Indonesia, yang berfokus pada lima ideologi besar di dunia, yakni ideologi agama, ideologi humanis (HAM), ideologi nasionalis, ideologi demokrasi, ideologi sosialis.

Q (33): Bagaimana posisi ideologi-ideologi yang lainnya?

A: Ideologi lainnya adalah merupakan derivat alias turunan yang berasal dari salah satu ideologi besar itu. Contoh: sosialisme Komunis adalah derivat dari ideologi sosialisme.

Q (34): Apakah benar bahwa setiap insan manusia membutuhkan falsafah pancasila sebagai satu kesatuan yang seutuhnya?

A: Pada hakekatnya kelima sila dalam pancasila itu adalah kebutuhan pokok individual seorang insan manusia yang sejati dan utuh di muka bumi ini, yakni terwujudnya hubung-an yang benar antara manusia dengan Tuhannya (hubungan vertikal, habluminallah: sila pertama dari Pancasila) dan terwujudnya hubungan yang benar antara manusia dengan manusia lainnya (hubungan horizontal, habluminanas: empat sila berikutnya dari Panca-sila).

Q (35): Bagaimana melayani kelompok-kelompok yang hanya mementingkan salah satu dari pada ideologi-ideologi yang ada dalam pancasila?

A:

1. Bahwa kemudian manusia mengambil inisiatif untuk mengelompokkan dirinya, karena membutuhkan ikatan-ikatan kebersamaan tertentu, dalam rangka mewujudkan keserasian dan keseimbangan hubungan vertikal dan hubungan horizontalnya masing-masing, bukanlah berarti bahwa sang insan secara individual tidak memiliki kebutuhan pokok lainnya itu.

2. Demikianlah ketika sang insan mengelompokkan dirinya ke dalam ideologi keagamaan (salah satu agama) misalnya, bukanlah berarti bahwa bagi dirinya sang insan itu tidak membutuhkan hubungan horizontal (habluminanas) yang serasi dan seimbang, dalam wujud kemanusiaan yang adil dan beradab, dalam wujud persatuan Indonesia karena mereka adalah hanya satu bagian saja dari bangsa Indonesia, dalam wujud demokrasi dan permusyawaratan, dan dalam wujud keadilan sosial.

3. Kita di Indonesia (1948 dan 1965) dan dunia (Jerman Timur, 1990; Rusia, 1991) sudah mengalaminya sendiri, bahwa sosialisme, khusus derivat-nya sosialisme komunis, yang tidak mengakui agama apapun (sila Ketuhanan Yang Mahaesa) sebagai bagian dari kebutuhan individualnya, baik bagi diri sendiri maupun kelompoknya, pada akhirnya akan hancur lebur dengan sendirinya.

4. Oleh sebab itu kelima sila dalam Pancasila adalah suatu kesatuan, yang tidak terpisahkan, integral, masing-masing sila adalah hanyalah bagian alias komponen dari pada satu kesatuan utuh, yang disebut Pancasila milik bangsa dan negara Indonesia;

5. Artinya jika salah satu sila tidak ada maka sesungguhnya sang insan itu belum jadi manusia seutuhnya, karena dia menyangkal kebutuhan hakiki dari dirinya sendiri, dan bahkan diri pribadinya itu, pada hakekatnya (virtual), belum menjadi bagian dari bangsa Indonesia walaupun daerah tempat mereka bermukim dan hidup itu adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Namun kita yakin percaya sepenuhnya, bahwa pada akhirnya kebenaran Allah (wahyu via istikharah) yang pasti berlaku (Thaahaa :114), sehingga setiap orang dalam kelompok yang seperti itu akan menjadi sadar, mengerti dan bersedia menyatukan diri ke dalam bangsa dan negara Indonesia.

Referensi (5):

Thaahaa :114. (lih Al-Baqarah :77; Al-Infithaar :10-12)

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Al-Baqarah :77 *)

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?”

Al-Infithaar :10-12 *)

“Padahal sesungguhnya, bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.”


Q (36): Setiap ideologi pada dasarnya adalah bagian kebutuhan dari satu individu insan manusia yang hidup di bumi, maka bagi sebuah ideologi itu tidak ada batas-batas negara dan daerah, atau batas-batas bangsa dan suku-suku bangsa, atau batas-batas bahasa dan kebudayaan. Lalu siapakah yang berhak dan berwenang untuk mengaturnya dalam suatu kehidupan kenegaraan dan kebangsaan?

A: Oleh sebab itu negaralah yang berkepentingan untuk menjaga agar setiap ideologi yang ada itu tidak boleh menjadi sumber konflik yang akan menghapus atau menghilangkan negara dan bangsa itu sendiri, melainkan justru sebaliknya, yakni menjadikan ideologi-ideologi yang tercakup sempurna dalam falsafah pancasila itu (Misi Negara) sebagai sumber kekuatan dan kesaktian maha dahsyat, bagaikan sang halilintar, yang akan membawa negara dan bangsa supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, dalam negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur (Visi Negara).

Q (37): Bagaimanakah pula posisi perundang-undangan dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh negara, untuk mengatur kehidupan kenegaraan dan kebangsaan itu?

A:

1. Demikian pulalah ketika sebuah undang-undang ataupun keputusan pemerintah, bahkan keputusan perusahaan dan keputusan individu perorangan sekalipun yang sama sekali tidak mempertimbangkan ideologi-ideologi yang sudah tercakup dalam sila-sila di pancasila itu, maka dapat dipastikan umur undang-undang itu, keppres itu, peraturan perusahaan itu, keputusan direksi itu, ataupun keputusan yang diambil oleh perorangan itu, tidak akan lama umurnya, bahkan undang-undang itu justru menjadi sumber konflik dan perpecahan serta sumber malapetaka di masyarakat, bangsa Indonesia.

2. Jadi pada hakekatnya jika belum mengerti pancasila, berarti belum bisa mengerti kebutuhan hakiki dari setiap insan manusia yang hidup di muka bumi ini. Demikianlah dia tidak akan pernah mengerti kebutuhan bangsa Indonesia, bahkan kebutuhan bangsa-bangsa di dunia.

Q (38): Bagaimana kita bisa mengerti falsafah pancasila, dengan tepat dan benar?

A:

1. Pada titik inilah peranan penentu kebenaran (wahyu via istikharah) dari suatu agama itu menjadi sangat nyata di lapangan kehidupan manusia, juga sebagai suatu bangsa.

2. Lihatlah, begitu beratnya dan begitu dalamnya dan begitu sempurnanya para founding fathers kita ketika menggali dan menemukan butir-butir pancasila yang lengkap mencakup semua ideologi besar dunia yang hidup dalam masyarakat bangsa Indonesia, dan itulah bukti bahwa pada momentum itu sungguh para founding fathers itu pada masing-masingnya sudah mencapai tingkat berpikir yang tertinggi alias tingkat ma’rifat;

3. Contoh empiris ada dalam sejarah perjuangan memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya peranan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yakni mengapa beliau bersedia mengorbankan segala-galanya bagi Indonesia merdeka, ialah kerajaannya, rakyatnya, hartanya, dan jiwanya, adalah karena berpegang teguh kepada wisik (bahasa Jawa; atau bahasa Al Quran: wahyu via istikharah) yang diterima beliau ketika dalam proses negosiasi kontrak politik dengan Belanda sebagai syarat untuk naik tahta kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat di tahun 1940, yakni intinya bahwa Belanda akan pergi dari sini (aslinya: ‘Tole, tekene wae, Landa lunga saka bumi kene’). Kondisi jiwa beliau, sebagai pemuda calon raja, pada saat itu adalah kondisi tingkat ma’rifat sehingga sangat kondusif untuk terjadinya istikharah, dan menerima wisik atau wahyu dari utusan Allah, malaikat dan manusia (para leluhur yang sudah sempurna di mata Allah) yang dikehendaki-Nya (Al-Muzzammil :5).

Kata beliau: Wisik itulah (bahwa Belanda akan pergi dari sini), yang menjadi dasar kokoh dari segala sepak terjangku di masa itu, jika orang ingin mengerti dengan benar. (lih Buku Tahta Untuk Rakyat, 1982) (lih juga rubrik HBX).

Referensi (6):

Al-Muzzammil :5. (lih An-Nahl :2; Al-Hajj :75) “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”

An-Nahl :2 *) “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.”

Al-Hajj :75 *) “Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

4. Jadi sesungguhnya teori Politik plus istikharah dari Seyyed Hossein Nasr, 1993, sebagai teori filsafat politik modern, sudah lama dilaksanakan di Indonesia, walaupun tanpa disadari bahwa hal itu justru akan jadi tipping point di dunia politik abad 21 bahkan milenium ketiga ini.

5. Demikianlah hanya mereka-mereka yang juga telah memiliki tingkat pemikiran tertinggi alias tingkat ma’rifat sajalah yang dapat mengerti arti pancasila yang original secara utuh itu (paradigma asli yang disampaikan utusan Allah via istikharah), sehingga tidak mungkin lagi menemukan cela apapun untuk menyangkal kebenaran pancasila itu.

6. Dan adalah tugas utama setiap agama, untuk membimbing dan memimpin tiap-tiap insan umatnya supaya dapat mencapai tingkat ma’rifat dalam totalitas perjalanan iman-nya (jangan sebagian-sebagian tapi harus keseluruhannya; Al-Baqarah :208), termasuk khususnya para kader-kader umat yang jadi pelaku bisnis di bidang ekonomi dan pelaku politik alias politikus yang berkiprah di setiap partai politik yang ada. Dengan demikian mereka boleh menjadi hamba-hamba Allah yang membawa rahmat Allah (Al Abiya :107) bagi kesejahteraan bangsa seluruhnya, sesuai dengan rancangan kehendak Allah sendiri.


UMUM: PREAMBULE UUD ’45: VISI & MISI NEGARA DAN MISI PEMERINTAH

Q (39): Apakah PKB sudah mengenal dan mengerti Preambule UUD 45, yang intinya berisi Visi & Misi Negara dan Misi Pemerintah?

A:

1. Peranan dan fungsi preambule adalah mengabstraksikan seluruh substansi UUD dalam sebuah ikhtisar alias summary yang singkat dan lengkap, jelas dan tegas.

2. Oleh sebab itu bagi sebuah UUD, maka wajarlah bahwa isi preambulenya di fokuskan kepada tiga inti pokok sebuah negara, yakni Visi Negara (kata benda: abstrak), Misi Negara (kata kerja), dan Misi Pemerintah (kata kerja). Di dalam misi negara itulah tercantum filosofi alias falsafah negara yang mencakup seluruh ideologi yang hidup dalam masyarakat bangsa Indonesia.

Q (40): Mengapa falsafah negara masuk dalam Misi dan bukan Visi?

A: Karena falsafah pancasila yang merupakan representasi dari semua ideologi yang ada dalam masyarakat itu haruslah direalisasikan dalam setiap wujud gerak langkah manusia Indonesia, dalam hidupnya sehari-hari, untuk mencapai kesejahteraannya.

Q (41): Bagaimana posisi partai-partai politik?

A: Demikianlah karena dalam negara integralistik Indonesia, masyarakat dan partai-partai merupakan bagian dari bangsa dan negara Indonesia, maka Visi & Misi partaipun harus-ah menjadi bagian dan derivat dari Visi dan Misi negara, dan Misi pemerintah.

Q (42): Bagaimana membuktikannya?

A:

1. Oleh sebab itu haruslah terbukti adanya garis yang linear alias garis merah alias garis lurus yang menghubungkan visi & misi negara dengan Visi & Misi setiap partai politik, tanpa kecuali.

2. Dengan perkataan lain Visi & Misi negara, dan Misi pemerintah, haruslah menjadi bagian integral utama dari Visi & Misi partai politik itu sendiri, sedangkan ideologi partai menjadi bagian integral dari falsafah pancasila yang dianut oleh negara Indonesia.

3. Contohnya dapat dilihat pada hubungan keterkaitan yang erat antara Visi & Misi Negara dengan Visi & Misi parpol: PKB, dan Visi & Misi ormas keagamaan: NU.

4. Bagi NU, visi politiknya adalah terciptanya suatu kehidupan insan manusia, yang islami sejati, dan dipimpin oleh utusan Allah, dalam segala aktivitas kehidupannya sehari-hari, sepanjang sisa umur yang dikehendaki Allah bagi hidupnya di bumi ini.

5. Bagi PKB, visi politiknya adalah terciptanya suatu kehidupan insan manusia, yang selalu memancarkan lima butir sikap hidup yang benar (panca-tunggal), dan dipimpin oleh utusan Allah, dalam segala aktivitas kehidupannya sehari-hari, dalam negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

6. Dan bagi PKB, misinya adalah mewujudkan suatu keadaan alias kondisi yang kondusif bagi setiap insan manusia Indonesia, agar dapat melakukan segala aktivitas kehidupannya sehari-hari dengan aman, tertib dan merdeka, dalam bingkai hukum yang adil dan benar, sehingga bisa tercapai kesejahteraan lahir dan batin bagi diri pribadinya dan keluarganya serta bagi lingkungannya.

7. Dan bagi para pemimpin dan utusan PKB, misinya adalah mewujudkan suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, yang memajukan kesejahteraan umum, yang mencerdaskan kehidupan bangsa, dan yang ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

 

KHUSUS: TENTANG ISTIKHARAH

Q (43): Apakah istikharah itu?

A:

1. Istikharah adalah shalat sunnat dua rakaat untuk meminta petunjuk yang baik, apabila kita menghadapi dua pilihan, atau ragu dalam mengambil keputusan; sebaiknya dikerjakan pada dua per tiga malam yang terakhir. (lihat Buku Pintar Agama Islam, Edisi Senior, 2002, Cetakan ke XI, halaman 350, disusun oleh Syamsul Rizal Hamid)

2. Intinya adalah tindakan berkomunikasi dua-arah dengan Allah, untuk memohon bimbingan-Nya. (lihat Al-Muzzammil :5)

Referensi (7):

Al-Muzzammil :1-9 *) Hai orang yang berselimut (Muhammad),bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (lih Al-Baqarah :107)

Al-Baqarah :107 *) “Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”

An-Nahl :2 *) “Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.”

Q (44): Apakah mungkin terjadi komunikasi dua-arah antara Allah dengan hamba-Nya?

A:

1. Tentu saja amat mungkin bahkan adalah kewajiban kita untuk berdialogue dengan Allah, yakni dengan utusan-Nya, para malaikat dan manusia yang dikehendaki-Nya!

2. Buktinya, sejak awal kita sudah ditanamkan kewajiban syariat kita untuk shalat lima waktu setiap harinya (posisi: 100% monologue). Pada waktu-Nya ada kewajiban hakekat kita untuk shalat tahajut di tengah malam (posisi: 20% monologue dan 80% dialogue). Dan akhirnya pada tingkat tertinggi ada kewajiban ma’rifat kita untuk shalat sebanyak-banyaknya dalam arti setiap saat ada komunikasi dua-arah (100% dialogue) antara para utusan Allah dengan kita yang menerima segala perintah-Nya untuk dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari, di segala bidang hidup manusia.

3. Jadi sesungguhnya shalat itu intinya adalah komunikasi dua arah antara Allah dengan hamba-Nya.

4. Yang jadi soal adalah apakah kita sudah jadi hamba-Nya? Apakah shalat kita sudah dua-arah atau sampai saat ini masih saja satu arah? Ayolah, jalan terus, jangan berhenti!

Q (45): Apakah ada syarat-syaratnya supaya kita layak disebut sebagai hamba-hamba-Nya?

A:

1. Tentu saja ada syarat-syaratnya yang harus kita penuhi terlebih dahulu sebelum ada datang utusan Allah yang menyatakan bahwa kita telah menjadi hamba-Nya, yakni kita harus sudah memenuhi kriteria-kriteria minimum untuk masuk dan berjalan di Jalan yang Lurus (Sirathalmustaqim), yang amat sangat sistematis karena memiliki empat milesstone, ialah syariat, tarekat, hakekat dan ma’rifat; dan dua buah rambu alias tanda-tanda jalan supaya jangan sesat, yakni puasa dan shalat.

2. Jadi sama sekali bukan kita sendiri ataupun pemimpin kita yang menyatakan bahwa kita adalah hamba Allah, melainkan hal itu adalah hak mutlak Allah yang dibawakan oleh utusan-Nya yakni malaikat atau manusia yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa :133)

Q (46): Apakah dasarnya istikharah itu?

A:

1. Jika Allah menolong kita (Ali-Imran :160; Al-Baqarah :107), sesungguhnya Allah akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut! (lih Al-Anfaal :9); inilah jaminan Allah via para utusan-Nya.

2. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan karena itu juga bagi hamba-hamba-Nya (termasuk hamba-Nya di pemerintahan negara) semuanya mungkin. (Ali-Imran :47)

3. Rancangan Allah bagi Indonesia harus terlaksana. Allah yang memimpin via para utusan-Nya, dan menyampaikan segala perintah firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya (An-Nahl :2; Al-Hajj :75), termasuk yang duduk dalam pemerintahan negara Indonesia.

4. Itulah dasar, prosedur dan proses baku dari kegiatan istikharah.

Referensi (8):

Al-Baqarah :107 *) “Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”

Ali-Imran :47. (dalam keadaan istikharah ada dialog)

“Maryam berkata: Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah ber-kehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, Jadilah, lalu jadilah dia. (huruf latin Arab: kun fa yakun)”

Ali-Imran :160. (lih Al-Anfaal :9)

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”

Al-Anfaal :9 *)

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

An-Nahl :2. (lih juga Al-Hajj :75)

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.”

Al-Hajj :75 *) “Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

An-Nisa :88 *) “Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.”

Q (47): Apakah syarat utama istikharah?

A:

1. Kita harus menjadi hamba-hamba-Nya (An-Nahl :2) alias alat-alat-Nya di bumi ini

2. Lalu memohon dan menunggu dengan sabar datangnya perintah-perintah firman-Nya untuk dilaksanakan tanpa syarat. (Yunus :109)

Referensi (9):

Yunus :109 *) “Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah hakim yang sebaik-baiknya.”

Q (48): Apakah syarat-syarat untuk menjadi hamba-Nya dan alat-Nya?

A:

1. Oleh utusan Allah, kita ditetapkan sebagai orang-orang terpilih, sebagaimana yang dikehendaki-Nya. (An-Nahl :2)

2. Orang terpilih harus terus menerus berjalan di Jalan yang Lurus itu (Sirathalmustaqim, Al-Fatihah :6), yang ujungnya adalah hadlirat Allah SWT.

3. Dia harus memiliki sikap hidup islami sejati, yakni sabar, syukur, setia & taat, berjihad (dalam bersikap sabar, syukur dan setia-taat itu), dan pasrah (lilahitaala); dan kelima butir sikap hidup itu merupakan satu kesatuan seutuhnya (panca-tunggal).

4. Dia harus jadi teladan yang islami sejati, dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kesetiaannya pada perintah Allah dan ketaatannya pada larangan-Nya, dalam cinta kasihnya (sebagai pembawa rahmat Allah, Al-Anbiya :107) dan dalam kesalehan dan kesuciannya.

5. Dengan perkataan lain, untuk mencapai sikap hidup islami dan menjadi teladan, maka seseorang itu haruslah orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah (Al-Fatihah :6) dengan harta benda dan diri mereka (At-Taubah :20), walaupun dalam keadaan ringan maupun berat. (At-Taubah :41)

Referensi (10):Al-Fatihah :6 *) “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”(bahasa latin Arab: ihdinas siratal mustaqim)

Al-Anbiya :107 *) “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

At-Taubah :20,41 *) “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Q (49): Siapakah yang bertanggungjawab untuk mempersiapkan seseorang untuk menjadi hamba Allah?

A :

1. Hal itu adalah tugas utama dari para ulama, di manapun dia berada.

2. Secara organisatoris khususnya, adalah tugas fundamental dari para ulama NU.

3. Syarat untuk menjadi pembimbing adalah bahwa ulama itu telah menjadi hamba Allah terlebih dahulu, sebelum dia bisa memimpin murid-muridnya untuk menjadi hamba Allah seperti dirinya sendiri.

4. Dan yang menetapkan seseorang adalah hamba Allah, merupakan hak mutlak dari Allah sendiri; dan Allah hanya menilai hatinya, bukan raganya.

5. Jadi di muka bumi ini, termasuk di Indonesia, tidak ada orang yang ditetapkan oleh Allah menjadi hamba Allah berdasarkan tanda-simbol lahiriah alias ukuran duniawi seperti status alias pangkat, faktor keturunan ataupun darahnya ‘darah biru’, dan seterusnya.

6. Demikianlah setiap orang yang telah memiliki sikap hidup islami sejati, yakni sabar, syukur, setia & taat, jihad, dan pasrah, maka entah kapan, hanya Allah yang tahu, akan datang utusan Allah, yakni malaikat ataupun manusia (Al-Hajj:75), yang menyampaikan berita ketetapan Allah baginya sebagai orang yang terpilih menjadi hamba Allah.

Q (50): Bagaimana operasionalnya di bidang politik? (dan juga berlaku di semua bidang kehidupan):

A:

1. Seorang warga NU, yang jadi politikus di PKB, kondisinya hanya ada dua:

a. dia sudah memiliki sikap hidup islami sejati, sehingga sudah terpilih menjadi hamba Allah yang selalu di pimpin oleh utusan Allah dengan wahyu via Istikharah, di dalam aktivitas politiknya sehari-hari; (di sini NU boleh menuai dan menikmati output hasil didikannya) (lihat tugas fundamental pertama para ulama NU, pada buku Membangun PKB Tanpa Gus Dur, 2008, hlm 74), atau

b. dia sedang dalam proses perjalanan iman untuk dapat memiliki sikap hidup islami sejati, dan bertekad-baja untuk menyelesaikan perjalanan itu sampai akhir (Al-Fatihah:6); (di sini peranan para ulama NU sangat besar untuk tetap membimbing dia sampai akhir, sesuai misi NU) (lihat tiga tugas fundamental para ulama NU, pada buku Membangun PKB Tanpa Gus Dus, 2008, hlm 74-75); revised 15/8/08.

2. (Sekali lagi:) Diluar kedua kondisi individual itu, maka tidak seorangpun layak mendapat tugas kenegaraan apapun atas nama PKB, kecuali hanya menjadi anggota biasa saja; sambil menunggu para ulama NU mempersiapkan dirinya sesuai misi NU sendiri.

Q (51): Apakah di PKB sekarang ini, 2008, sudah ada warga NU yang politikus PKB, yang telah terpilih jadi hamba Allah dan di pimpin oleh utusan Allah?

A :

1. Hamba Allah, adalah orang yang perkataannya dan tindakannya akan terbukti kebenarannya di kemudian hari, artinya sesuai perintah firman Allah dalam Kitab Suci (Al Quran dan Hadis), setelah melalui perjalanan waktu dan berbagai peristiwa tertentu, sehingga akhirnya dia dapat dipercayai.

2. Orang yang dipimpin oleh utusan Allah, adalah orang yang perkataannya dan tindakannya bukanlah berasal dari akal, nafsu dan keinginan dirinya sendiri, melainkan atas segala perintah firman Allah yang disampaikan oleh para utusan Allah kepadanya, di semua bidang kehidupan, termasuk politik. (Asy-Syuura :51; An-Nahl :2; Al-Hajj :75)

3. Demikianlah, dengan berjalannya waktu, memasuki pemilu 2009 dan pilpres 2009, mari kita sama-sama lihat ujung perjalanan PKB, yang akan menjadi awal dari pelayanan berkualitas tinggi dari PKB bagi kesejahteraan rakyat Indonesia seluruhnya.

4. Perhatikanlah dan bersyukurlah atas mujizat-mujizat yang telah terjadi (keputusan MA dan KPU) dan semoga akan terus terjadi lagi di masa mendatang ini, jika memang PKB juga tetap rendah hati dan berjalan terus di Jalan yang Lurus itu.

5. Semoga para pemimpin PKB, baik pusat maupun daerah, selalu tetap rendah hati, sabar dan pasrah, serta tidak menjadi sombong dan jatuh karena berkata dalam hatinya: jasa-jasakulah segala keberhasilan saat ini, dan bukan bersyukur karena karunia Allah itu. (lih Ibrahim :7; hlm 8, Referensi khusus: Syukur)

Referensi (11):

Doctrine, n,

[1] A creed or body of teachings of a religious, political or philosophical group presented for acceptance of belief; dogma.

[2] A principle or body of principles that is taught or advocated.

Dogma, n,

[] A religious doctrine or system of doctrines proclaimed by ecclessiatical authority as true.

[] A belief, principle, or doctrine or a code of beliefs, principles or doctrines.

Dogmatic, dogmatical, adj,

[1a] (of or a statement, opinion, etc) forcibly asserted as if authoritative and unchange-able.

[1b] (of a person) prone to making such statements

[2] of or constituting dogma.

[3] based on assumption rather than obsevation.

Idea, n,

[1] Any product of mental activity; thought.

[2] The tought of something.

[3] A belief; opinion.

[4] A scheme, intention, plan.

[5] A person’s conception of something.

[6] Significance or purpose.

[7] Philosophy: (a) An immediate object of thought or perception; (b) Plato: The univer-sal essence or architype of any class of things or concepts.

Ideology,

[1] A body of ideas that reflects the believe of a nation, political system, class, etc.

[2] Speculation that is imaginary or Visionary.

Philosophy, n,

[1] The academic discipline concerned with making explicit the nature and significance of ordinary and scientific beliefs and investigating the intelligibility of concepts by means of traditional argument concerning their presuppositions, implications, and interrelation-ships.

[2] The particular doctrines relating to these issues of a specific individual or school: the philosophy of Descantes.

[3] The basic principles of a discipline: the philosophy of law.

(note: philosophy of politic; the basic principles of politic: politic + factor istikharah, Seyyed Hossein Nasr, 1993, pakar filosopi politik dunia timur)

[4] Any system of belief, values, or tenets.

[5] A personal outlook or view point

FAKTOR TRANSENDENTAL (ISTIKHARAH)

[1] Kalau secara empiris telah berlaku universal (Plato), maka dia menjadi ilmu/teori politik; yang pasti adalah bahwa faktor transendental itu berlaku universal, dan berbukti empiris, dan sudah dialami oleh insan manusia dari abad ke abad; hanya memang belum ada studi yang fokus ke situ, yaitu politik; yang ada baru di agama-agama.

[2] Pengalaman transendental di agama-agama telah berbukti dengan adanya perintah-perintah firman Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang diterima oleh para Rasul dan Nabi, dan orang-orang kudus/suci di segala abad dan tempat dan telah tertulis di dalam Kitab-Kitab Suci)

[3] Secara umum manusia jaman modern sekarang belum bisa menerima ketika ada seorang atau beberapa orang biasa-biasa saja namun nyatanya telah tuntas meliwati ‘Siratalmustaqim’, dan karena itu telah diberi kemampuan untuk berkomunikasi dalam wujud pengalaman transendental dengan Tuhan (wujudnya: istikharah); dan sesungguhnya peristiwa itu, yang terjadi sekarang, sudah ditulis ribuan tahun yang lalu dalam Kitab Suci namun tokh belum dapat diterima oleh insan manusia yang hidup di masa kini;

[4] Mengapa demikian?

Lihatlah gambarannya pada tabel berikut ini:


[5] Pakar filosopi politik modern dunia Timur, Seyyed Hossein Nasr, dalam bukunya A Young Moslem’s Guide to the Modern World, 1993, merekomendasikan: bahwa ilmu politik masa kini itu sekarang haruslah berdasarkan wahyu via istikharah! Seyyed Hossein Nasr sendiri belum bisa memberikan bukti-bukti empiris, baik di dunia timur apalagi dari dunia barat; padahal suatu teori dunia itu harus berlaku universal terlebih dahulu.

[6] Di dunia Barat sendiri, yang selalu mendapat kritikan keras ‘lebih banyak pakai kekuatan akal pikiran saja’, sehingga selalu muncul ‘teori politik baru’, ternyata pakar filosopi politik modern, ialah Erick Voegelin, yang disitir oleh S.P Varma dalam bukunya Teori Politik Modern, 1982, Edisi 2, Cetakan kelima, 1999, bahkan dengan yakin dan tegas katakan bahwa Politik itu harus telah mempertimbangkan faktor-faktor pengalaman spiritual alias transendental, walaupun diakuinya saat ini dunia barat pun belum memiliki kondisi intelektual yang kondusif guna menerima dan melakukan hal itu.

[7] Demikianlah di muka bumi ini, Indonesia yang pertama mulai berpikir (HBX, 2002 dan MI, 2008) tentang teori politik modern itu dan telah menerapkannya mulai tahun 2008 ke depan; khususnya di bidang politik, dan bidang-bidang kehidupan lainnya, maka semoga hal itu nyata berbukti di periode pemerintahan tahun 2009-2014 yang akan datang, dan yang berikutnya dan yang seterusnya.  Wallahu’alam bishshawab. (dialog imajiner, 28/12/08pm).








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.